Oleh: dokterdiaz | Agustus 3, 2010

Nasionalisme Harus Ditinggalkan

“You’re not to be so blind with patriotism that you can’t face reality. Wrong is wrong, no matter who does it or says it.”

— Malcolm X (By Any Means Necessary)

Seorang kadet berjalan memasuki lapangan yang terik kala itu. Bingar aba-aba meminta hormat pada sebongkah kain berwarna. Hebat. Selembar kain tak bernyawa bisa begitu sakti dihadapan manusia yang berada di lapangan hijau penuh barisan manusia.

Usai itu, Si Kadet berjalan kembali memasuki ruangan doktrinasi. Waw. Yang ia dapatkan disini malah lebih hebat lagi. Ternyata, bangsanya adalah nomer satu. Ternyata, membela bangsa dan tanah air merupakan tugas yang paling mulia. Ternyata, dia beserta yang lainnya merupakan makhluk robot yang istimewa. Ternyata, si kadet disumpah, demi sesuatu yang kebenaran ataupun kesalahan tidaklah ada tembok pembatasnya.

Setelah usai dijejali kata-kata bombastik, Si Kadet berjalan kembali menuju ruang makan. Stop. Semua berhenti di lawang pintu. Sebuah gambar meminta hormat dari mereka yang perutnya sudah tidak tahan lagi melihat santapan di depan pelupuk mata mereka. Satu persatu memberikan hormatnya. Tak mau mereka kelaparan lantaran tidak berbuat demikian.

Kenyang. Ya, setelah kenyang Si Kadet berjalan kembali. Langkah kakinya bergerak panjang. Memburu suara sayup-sayup memanggil jiwa spiritualnya. Namun setalah disana, tidak ia dapatkan sesuatu yang ia harapkan demi spiritnya. Sebab kebenaran yang katanya jernih dan suci trernyata telah dimanipulasi. Demi satu tujuan yang diajarkan tadi di ruangan doktrinasi.

Lama Si Kadet merenung. Merenung atas hari-harinya kemarin, sekarang, esok dan lusa. Mengapa hal ini bisa terjadi. Bukankah dengan tinggalnya dia disini berarti akan bersalah atas timbulnya perpecahan, beesalah antas perang antar negara, bersalah atas sikap anti terhadap imigran, bersalah atas pembantaian suku-suku pedalaman, bersalah atas pembantaian orang-orang yang berjuang demi kebenaran yang sesungguhnya, bersalah atas rakyat miskin yang mempertahankan dirinya dari penindasan, bersalah atas terbantainya jutaan jiwa manusia, bersalah atas pengingkaran akan kebenaran bahwa manusia itu sama dan tidaklah berbeda.

Akhir dari perenungannya dia mendapatkan sebuah tesis atas anti tesis yang tertanam dalam ronga-rongga otaknya. Semua ini tidaklah benar. Semua ini harus dilawan.

Si Kadet kemudian berjalan lagi menuju kamarnya. Menaggalkan semua atributnya. Kembali seperti sebelum dia berada di tempat itu. Lalu kemudian melangkah keluar dari arena kebodohan. Dengan satu tekad dan pemikiran baru; Nasionalisme haruslah ditinggalkan, Nasionalisme Jurang Kehancuran!

Anatomi Nasionalisme

Mendefinisikan nasionalisme tidak akan dapat dipahami tanpa mengkaji cara yang digunakan manusia dalam mengidentifikasikan dirnya dan cara yang dipergunakanya dalam berinteraksi dengan orang lain di masyarakat. Pembahasan ini akan memungkinkan dijelaskannya perbedaan antara berbagai macam kelompok manusia dan nasionalisme

Umat manusia dapat mengidentifikasikan dirinya dan berkelompok secara bersama-sama berdasarkan: patriotisme (cinta tanah air), nasionalisme (kesukuan, sektarian, ras), agama (ikatan spiritual), isu tertentu (ikatan kepentingan), dan ikatan ideologis.

Dan nasionalisme menurut Kamus Webster dideskripsikan sebagai loyalitas dan kecintaan kepada suatu bangsa; khususnya rasa kesadaran memuliakan satu bangsa di atas yang lain dan menempatkan penekanan utama pada mempropagandakan kebudayaan dan kepentingan sebagai saingan terhadap bangsa-bangsa yang lain atau kelompok-kelompok supranasional. Sedaangkan dalam kamus Britanica, nasionalisme berarti: filosofi politik atau sosial dimana kesejahteraan negara adalah sebuah entitas yang dirasa pentiang. Nasinalisme pada dasaranya adalah sebuah fase pemikiran kolejtif atau kesadaran dimana orang percaya bahwa tugas dan loyalitas mereka adalah untuk negara nasional.

Sangat jelas sekali bahwa tiap manusia yang hidup dalam ruang lingkup suatu negara. Diharuskan memberikan segalanya demi negara, ataupun apa yang dilakukan adalah demi bangsa, demi negara. Tak peduli apakah yang negara lakukan benar atau salah yang jelas apapun yang dilakukan dengan dalil untuk negara hak hal tersebut menjadi wajib hukumnya dan berdosa apabila melanggarnya.

Pada dasarnya Nasionalisme adalah ikatan antar manusia yang didasarkan atas ikatan kekeluargaan, klan dan kesukuan. Dan muncul tatkala pemikiran mendasar yang manusia emban adalah untuk mendominasi. Oleh karena itu, nasionalisme adalah ikatan yang absurd, primitif dan lemah. Salah satu kelemahannya adalah ketidakmampuan untuk mengikat manusia secara permanen. Lihat saja banyak kasus yang terjadi di negeri ini, seperti; kasus Aceh, kasus Papua, kasus RMS, belum lagi kasus daerah-daerah yang ingin menegakan syariat Islam. Atapun misalnya di mancanegara seperti: kasus Mindanao dengan MILF-nya, Kamboja, Somalia, Zimbabwe,Yugoslavia, Albania, dll.Semau membuktikan bahwa nasionalisme itu hanya mampu mengikat dalam sesaat saja.

Ikatan nasionalisme pun mempunyai beberapa sifat yang tidak kalah melemahkannya. Antara lain yaitu bersifat temporal. Ikatan hanya akan muncul manakla ada ancaman dari luar terhadap eksistensi satu komunitas. Adanya penjajahan, persaingan ataupun benturan budaya adalah stimulan yang ampuh untuk menumbuhkan nasionalisme. Sebagai contoh adalah kampanye Inggris melawan Argentina pada Perang Falkland. Pemerintah Inggris memangfaatkan media massa untuk membentuk opini dan menumbuhkan rasa nasionalisme agar rakyatnya mendukung perang tersebut. Akhirnya semua partai politik dapat bersatu kala itu. Padahal pesan yang disampaikan cukup sederhana, “Kita sedang berperang demi Ratu dan Negara”. Persatuan macam ini, akhirnya menguap tatkala Perang Falkland berakhir.

Ikatan nasionalisme pun bersifat emosional, karena lahir dari naluri mempertahankan diri semata, tidak tumbuh dari kedaran pemikiran yang permanen. Wajar jika nasionalisme menimbulkan banyak kontradiksi. Disatu sisi berniat mempersatukan manusia, di sisi lain malah menumbuhkan sikap antiegaliter terhadap bangsa-bangasa lain atau memisahkan diri dari manusia lainnya. Dari sinilah, kemungkinan terjadi konflik sosial, politik dan militer sangatlah besar. Maka disadari atau tidak akan menumbuh suburkan ide-ide fasisme, rasisme, perhatian terhadap kepentingan negara sendiri tanpa meperhatikan hak-hak dari bangsa lain yang dapat berakibat terjadinya konflik internasional. Contoh kasus adalah mobilasisi umum Indonesia pada era Sukarno menetang Malaysia karena yang berakibat terjadinya bentokan fisik antara dua negara.

Bila kita mau menyimak ke belakang, sebenarnya permasalahan nasionalisme –contoh Indonesia dengan Malaysia—merupakan hal yang kebetulan saja. Karena secara tidak sengaja, penjajah atas negeri-negeri tersebut berbeda walaupun faktanya kondidi geografis serta budayanya tidaklah jauh berbeda. Coba misalnya kalau Raffles tidak meninggalkan Indonesia. Maka lain ceritanya, mungkin saja Indonesia menjadi negara common wealth atapun wilayah negara Indonesia mencakup Malaysia dan Brunei dan malah lebih luas sampai ke Papua New Guenia dan Australia.

Sejarah kehidupan manusia mencatat bahwa konflik primordialisme adalah konflik tertua yang bisa jadi setua manusia itu sendiri. Mulai perang yang melibatkan kerajaa-kerajaan besar seperti Persia, Romawi, Mongol dan Majapahit, hingga konflik modern semisal Peran Dunia I dan II. Seringkali pemicu peperangan antara lain dikarenakan amsalah-masalah sepele; perebutan padang rumput, air, ternak dan wanita. Salah satu contoh, pernah terjadi perang selama 30 tahun disebakan masalah ternuhnya kuda milik seorang pemimpin suku.

Hal ini berlanjut dan semakin kompeks permasalahanya pada masa modern. Di Eropa misalnya, demi supremasi ras, Hitler dan Mussolini yang memang fasis dan rasis mengobarkan Perang Dunia II. Begitu pula di Asia. Bangsa Jepang tidak mau kalah dengan mencetuskan ide 3A-nya. Dengan slogan “Nippon sebagai Cahaya Asia”, aksi brutal dan penindasan terhadap wanita diterapkan secara sistemik. Selain itu, mereka pun melakukan rekrutmen pribumi untuk perang dan romusha serta melacurkan wanita-wanita pribumi untuk ajojing bersama serdadu-serdadu mereka. Dan ini bukan dilakukan oleh ternata Jepang saja, sejarah mencatatkan bahwa pada masa Iskandar Agung, Zaman Kegelapan Eropa, Jerman dengan PD II-nya, GI-USA dengan Vietnamnya, Serbia, Albania serta banyak daerah konflik saat ini, pun tidak ubahnya mempraktekan hal-hal biadab seperti itu.

Dalam permasalahan nasionalisme di negeri ini pun tidaklah jauh berbeda. Bagaiman kasus Aceh begitu hangat di telinga kita akhir-akhir. Demi kekayaan negara Indonesia –minyak bumi dan gas alam—maka nyawa manusia pun tidaklah berarti apa-apa asalkan negeri Aceh tetap masuk wilayah Indonesia. Begitu pun untuk kasus NII, kasus Komando Jihad, kasus Timor-Timur, kasus Papua dan sejenisnya. Demi mempertahankan kepentingan, tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus dibantai bukanlah persoalan urgent. Demi nasionalis kita, nyawa melayang tidak jadi soal.

Beberapa dari rakyat negeri ini berpendapat bahwa aktivitas-aktivas tersebut adalah pengkhianatan. Mereka tidak mau mengerti mengapa daerah-dareah tersebut ingin melepaskan diri. Mereka pun tidak mau peduli rakyat dibantai, yang penting Indonesia tidak pecah. Namun hal ini tidak bisa disalahkan mengingat bahwa sejak dari pendidikan tingkat paling dasar memang dicekoki propaganda nasionalisme (anatar lain lewat lagu-lagu wajib, upacara bendera, penringatan kemerdekaan). Sehingga ditiap benak-benak rakyat timbul pemikiran mendasar bahwa setiap orang yang tidak nasionalis adalah pembangkang dan layak mendapatkan tuduhan subversif. Walaupun ternyata dalih “demi persatua dan kesatuan” sebenarnya kata-kata yang digunakan untuk membodohi rakyat dan yang mendapatkan ahsil dari kepentingan itu bukanlah rakyat.

Sekali lagi, inilah kelemahan dari nasionalisme yang memang lemah, temporal dan emosional. Tidaklah layaj bagi manusia yang berpikir jernih untuk mengambil ide ini sebagai konsep pemikiran mereka. Seperti mengajari kepada kita untuk meminggirkan nasionalisme, bangsa-bangsa Eropa berusaha meninggalkan ego-nasionalisme 15 negara anggotanya dengan membentuk Masyarakat Eropa seperti yang tercantum dalam Perjanjian Maastricht,7 Februari 1992.

Dengan tujuan terbentuknya komunitas baru yang mempunyai kesatuan moneter Eropa, kewarganegaraan Eropa termasuk masalah visa dan imigrasi, politik luar negeri dan keamanan bersama, pengadilan dan urusan dalam negeri. Walaupun memang, unifikasi yang terjadi sebatas ekonomi dan politik dan lebih tepat disebut internevensi negara-negara kapitalisme kepada negara-negara dunia ketiga, namun tetap ini merupakan sedikit langkah maju atas akal manusia.

Fenomena bersatunya negara-negara MEE dalam Eropa bersatu atau terbentuknya pakta-pakta ekonomi, mulai dari GATT, Putaran Uruguay, APEC, ASEAN, dll menunjukan secara faktual kegagalan atau setidaknya ketidakmampuan konsep nasionalisme dalam mengatasi problema suatu negeri dan minimal menunjukan bahwa ikatan nasionalisme sudahlah tidak relevan lagi. Telebih dalam abad globalisasi sekarang ini, tidak satu pun negara yang mampu berdiri sendir secara total tanpa campur tangan atau kerjasama negara lain. Sekalipun itu Amerika Serikat, bullshit, bila dia tidak melakukan kolaborasi dengan negara lain terutama berkaitan dengan tendensi ekonomi.

Namun unifikasi tersebut dirasakan belum memadai untuk menciptakan kekuatan bersama yang tangguh, karena memang belumlah ditopang dengan ikatan yang kuat, yakni ideologi. Untuk menutupi kekurangannya tersebut, sengaja para kapitalistik menebarkan ide globalisasi atas dunia dengan sekaligus menghembuskan idelogi mereka kapitalistik-sekurasime yang sebenarnya akan membuat mereka tertawa diatas ketertindasan orang-orang yang lemah. Fakta berbicara, walaupun kita melakukan kolaborasi dengan mereka, tetap kita tertindas, terhina dan mesti menangisi darah saudara-saudara kita terlebih untuk negara-negara dunia ketiga.

Melihat kenyataan diatas, semetinya semakin disadari oleh kita semua, bahwa kebahagianan dengan mengandalkan para kapitalistik adalah nonsens. Maka dari itu, perjuangan yang harus dibangun adalah perjuangan unifikasi ideologis bagi seluruh manusia yang ada di dunia, tanpa peduli akan hitam-putih, besar-kecil, tinggi-rendah, miskin-kaya, dan batasan-batasan rendah lainnya. Bukankah ada suatu semboyan; United We Stand, Divided We Fall – Bersatu kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.

Lalu atas hal apa kita bersatu? Kita bersatu ats suatu pemahaman yang ideologis. Pemahaman yang paling mendasar pada manusia atas suatu kebenaran mutlak. Karena dengan ikatan ideologislah sesuatu akan kuat terikat. Melebihi ikatan cinta tanah air, ikatan nasionalisme, ikatan spiritual dan ikatan kepentingan.

“WE’LL BE THE ONE OF FEW PEOPLE WHO AGAISNT THE WORLD. MAYBE WE WILL FALL BEFORE WIN. WHO KNOWS? BUT WE’LL FALL WITH OUR ONLY PRIDE, OUR ONLY IDEOLOGI!”

[nczine]


Responses

  1. Salam Kehancuran Nasionalisme.
    Selamat Datang Ukhuwah Islamiyah.

    Sepertinya tidak asing dengan nama blog ini? Orang fuldfk kah?

    • iya akh. . saya orang fuldfk., DEP IT 😀

      salam kenal..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori