Oleh: dokterdiaz | Februari 26, 2012

Dream, Hope and USMLE

Ini adalah tulisan pertama saya sejak menginjakkan kaki di negara (yang dianggap) paling adidaya se-bumi, Amerika. Di dalam kamar apartment seharga 575$/month, diiringi lantunan lagu dari Madonna – Miles Away yang pas banget buat kondisi saya yang lagi homesick berat dengan Indonesia. Saya akan membeberkan kepada anda semua bagaimana kronologi saya bisa terdampar di negeri ini. Check it out.. 😀

Seperti membuat penelitian, semua diawali dengan fenomena. Di Indonesia, jika mau jujur, nyawa berharga sangat murah sekali. Betapa banyak anak kecil dengan Primary Billiary Cirrhosis, Leukimia atau Eosinophillic Disease harus meninggal dengan diagnosis ISPA atau Malnutrisi. Tidak semua dokter umum tahu apa itu Kartagener Syndrome atau Wallerian Degeneration, dan memang tidak perlu tahu untuk menjadi dokter primer di Indonesia. Dengan alasan klise, Indonesia kekurangan dokter.

Hingga suatu titik, saya merasa muak dengan diri saya yang begitu bodoh, saya merasa belum pantas untuk menjadi seorang dokter hanya berbekal ilmu yang seadanya untuk lulus. Saya merasa masih belum mempunyai satu kemampuan yang membuat kami, para dokter, bisa benar benar menempati peran kami sebagai makhluk Allah di muka bumi ini. Kemampuan untuk MENYEMBUHKAN.

Banyak yang berkata bahwa dokter tidak pernah menyembuhkan, Allah lah yang menyembuhkan. Yeah, IT’S SO DAMN TRUE. Tapi begitu pula halnya dengan Oksigen. Allah lah yang menciptakannya. Tapi peran pohon disini adalah dia mempunyai KEMAMPUAN untuk menciptakan Oksigen dari Karbon Dioksida. Dengan seizin Allah. Jika semua pohon berpikir bahwa dia tidak pernah menciptakan oksigen dan tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengasah kemampuannya dalam menciptakan oksigen, Saya yakin umat manusia akan sudah punah saat ini.

Back to the topic, setelah mengalami saat saat galau berkontemplasi sebagai mahasiswa kedokteran pemalas yang tidak punya ilmu apa apa.. Saya memutuskan, saya harus mengulang ini semua. yah, anda betul, MENGULANG ini semua. Memulai lagi dari awal pelajaran yang saya dapatkan di bangku fakultas kedokteran. Saya harus ikut persamaan dengan standar tertinggi yang ada. Saya harus punya kemampuan untuk MENYEMBUHKAN. Bagaimanapun caranya..

Setelah searching, googling, dan aktif di berbagai forum tentang bagaimana kehidupan mahasiswa kedokteran di berbagai belahan dunia, saya kemudian menemukan the most demanding Medical License Examination di dunia, USMLE. Dengan USMLE kita bisa masuk untuk melanjutkan sekolah spesialis di Amerika. USMLE inilah yang sedang saya persiapkan saat ini.

Saya ingin belajar lagi, untuk menjadi dokter kelas dunia. Bukan dokter ala kadarnya. Bukan juga agar terlihat keren atau wow di mata manusia. Tapi lebih kepada menjalankan dengan sepenuh tenaga peran saya sebagai hamba Allah di dunia untuk MENYEMBUHKAN manusia dari penderitaannya.

Tentang detail dari USMLE dan bagaimana planning saya untuk mencapai impian saya, saya akan posting di post selanjutnya. Stay tuned. 😉


Responses

  1. Ditunggu cerita berikutnya Dek.

  2. okey diaz

  3. Nice banget Diaz…^^

  4. mas, bisa tolong info lebih detail ttg wallerian degeneration kah? hasil MRI anak sy ada kata2 itu, dah coba googling tapi info in english rada2 mumet bacanya, maksih sebelumnya

    • hello mbak yulia, wallerian degeneration adalah kondisi dimana sel syaraf yang terputus mengalami degenerasi. Sel syaraf seperti sebuah kabel yang panjang, nah wallerian degeneration ini adalah peristiwa ketika sel syaraf ini terputus akan mengalami kematian sel ke belakang sampai otak, atau ke depan sampai sel syaraf di bagian tubuh yang paling ujung (ex:kulit).

      Walaupun demikian, selain mengalami kerusakan, sel syaraf juga mengalami regenerasi. Jika kerusakan adalah sel syaraf tepi, maka regenerasi ini lebih kuat, jadi nyambungnya lagi lebih cepat. Berbeda dengan sel syaraf pusat, di SSP, sel syaraf sangat lambat/bahkan bisa dikatakan tidak mengalami regenerasi sama sekali. Jadi harus diberi tindakan sesegera mungkin untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Kebanyakan penderita neurodegeneratif mengalami hal ini.

      semoga bisa membantu infonya 🙂

  5. wah…salut…out of the box…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori