Oleh: dokterdiaz | April 18, 2012

Hope, Belajar dan Lupakan.

Saat ini tengah malam di penghujung musim semi di new york. Saya tidak bisa menggambarkan ketakjuban saya melihat keajaiban Spring. Pohon pohon yang bahkan seminggu yang lalu rontok, sekarang seperti berlomba lomba mempertontonkan “aurat”nya. Indah sekali. Bunga bertebaran di mana mana. Suhu udara pas banget takarannya. Hanya dua kata: Luar Biasa!

Hari ini saya merampungkan kuliah mikrobiologi saya dengan membaca baca “flashcard” online. Sebuah perjuangan yang berat bagi saya, secara sejak kecil saya paling benci dengan adegan menghafal dalam belajar. Saya ingat sekali pada saat saya masih menjalani pendidikan pre-klinik di fakultas kedokteran, nilai saya mengenaskan untuk mata kuliah “menghafal” seperti anatomi, mikrobiologi dan farmakologi. Ironisnya, saat ini saya harus menjalani siksaan “menghafal” tersebut untuk yang kedua kalinya. Disaat seharusnya saat ini saya bisa saja bekerja sebagai dokter Internship dan menjadi dokter Indonesia pada umumnya.

Do I regret it? Honestly, hati kecil saya menyesali keputusan untuk mengejar impian yang teramat besar untuk orang yang tidak terlalu pintar seperti saya. Kemampuan intelektual saya so-so. Impian saya untuk bisa menjalani pendidikan di Rumah Sakit Terbaik di seluruh dunia saat ini, bukan impian yang terlalu pantas untuk orang dengan kemampuan intelektual seperti saya. Berbeda 180 derajat dengan kawan kawan dokter lain yang mempunyai gelar Ph.D atau lulusan terbaik.

Hope.

Itulah alasan saya masih bertahan dalam perasaan insecurity yang luar biasa ini. Saya ingat ketika menteri BUMN saat ini, Dahlan Iskan, mencanangkan”Manufacturing Hope” diawal dia memulai restrukturisasi BUMN yang kita lihat akhir akhir ini. Disaat cita cita terlampau sulit untuk dicapai, langkah awal yang beliau lakukan pertama kali adalah membangkitkan Hope. Murah, Mudah dan Gratis. Hampir semua orang mempunyai resource untuk mendapatkan itu.

Saya memulai perjalanan ini dengan sebuah Hope yang besar untuk menyelamatkan 40.000 pasien yang akan mati dengan segera jika tidak ada yang mampu menolong mereka. Empat puluh ribu pasien yang membutuhkan transplantasi organ di Indonesia. Terlalu hipokrit? maybe. Tapi hidup ini sendiri juga sudah terlalu hipokrit untuk dijalani. Berapa banyak kontradiksi antara apa yang kita yakini dan kita lakukan selama masa hidup kita yang pendek ini. Saya pribadi sudah sangat banyak. It doesn’t matter to add another one in my list.

Saya membangun visi saya sebagai seorang dokter yang cemerlang di masa depan. Konsep cemerlang yang saya bangun bukanlah kepopuleran atau material yang banyak. Tapi seorang dokter yang benar benar bisa menyelamatkan nyawa manusia. Melihat bagaimana hidup mereka berubah, mendapatkan tambahan sedikit waktu di dunia untuk benar benar mensyukuri kesempatan yang telah diberikan Tuhan untuknya.

Di visi saya, saya juga melihat Indonesia di masa depan adalah surga untuk kehidupan. Dimana tidak ada lagi ketidak adilan distribusi kesehatan. Kesempatan yang sama untuk semua orang. Negara yang melindungi rakyatnya. Mahasiswa yang antusias untuk menggapai impiannya yang besar. Bukan lagi untuk memanipulasi rakyat lain yang tidak berpendidikan, namun sudah berpikir di tingkat dunia. Saat itulah saya akan berkata: “What a great country to live” untuk Indonesia.

Cahaya itu masih ada. Walaupun hanya titik kecil berukuran nanometer di jarak ribuan mil dari tempat saya berdiri saat ini. Tapi titik itu harus kita kejar. Apapun pengorbanan dan kesakitan yang menanti di depan. Saya ingat rekan saya dr. Andri Subiantoro yang berjuang dengan keras untuk membiayai pendidikan dokternya dengan segenap tenaga. Rekan rekan sekelompok DM saya yang begitu disiplin dan perfeksionis untuk mendapatkan standar tertinggi dalam pengetahuan mereka. Hampir tidak ada kata “patol” walaupun itu adalah praktek umum yang terjadi. Apa bedanya saya dan mereka? ini adalah pilihan hidup saya.

Orang yang mencari alasan untuk tidak menngerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan kebanyakan hanya orang yang memang tidak bisa bekerja. Integritas dan Antusiasme-lah yang akan membawa kita semakin dekat dengan cahaya itu.

Hope itu.

Untungnya masih ada cherry blossom spring yang merilekskan saya di tengah semua ketegangan ini. Mengutip semboyan PLN yang dicanangkan pak DI di awal menjabat direktur PLN. Kerja! Kerja! Kerja!. Saya modifikasi untuk menyemangati diri saya sendiri.

Belajar! Belajar! Belajar!

Lupakan !


Responses

  1. Sip yaaaaz…bagus gni lo tulisannya?gt ko pke merendah..lanjutkan brooo!

  2. Luar biasa. May ALLah bless you.. sya kagum dng semangat anda, anda menetapkan standar yg tinggi sekali. semoga kelak anda mjd seorang dokter yg bisa menyelamatkan nyawa anak2 indonesia. I’m a mother of 2 years old baby girl. Dahulu anak saya lahir dalam kondisi prematur, 750 grm. cukup lama dirawat sekitar 3 bln, anak sya beruntung krn dirawat dokter2 hebat (RSAB HARAPAN KITA Jakarta) pada awalnya banyak sekali masalah kesehatan yg timbul, ROP, pendarahan di otak, pembengkakan hati, dll. Tapi sekarang tumbuh sehat, mata normal, hati normal, tumbuh kembang bagus bahkan kadang sya merasa dia lebih pintar dr anak seumurannya. Sya pernah bertemu bayi buta krn terlahir prematur, sya tanya ke ibunya apakah dahulu tidak diperiksakan, menurut si ibu, dokter anak yg menangani tidak menganjurkan periksa(si ibu ini tinggal di lampung dan baru dirujuk ke KMN jakarta setelah mata anaknya berwarna putih). pada kasus mata anak saya, dilakukan observasi ketat, sampai retcam berkali2, hingga ROP benar2 dinyatakan regress. Betapa saya bersyukur Allah menyembuhkan anak saya melalui tangan2 dokter hebat tadi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori