Oleh: dokterdiaz | Mei 20, 2012

[Kebangkitan Nasional] Inilah Mengapa Pasien Kita Mati dan Kita Tetap Bodoh

Semenjak saya mahasiswa hingga saat ini saya tetap mahasiswa. Saya selalu menganggap hari kebangkitan nasional ini adalah sebuah hari yang spesial. Bukan hanya karena nilai historis tentang berdirinya organisasi yang bernama Boedi Oetomo di STOVIA. Namun setiap tanggal 20 Mei saya menjalani sebuah ritual ‘kontemplasi’ yang hari ini akan saya beberkan hasilnya di sini. Sebuah ritual yang bisa dibilang sangat berpengaruh besar pada proses pematangan intelektual dan pendewasaan diri saya. Engine started.

Di Indonesia, ada 3 stereotype mahasiswa kedokteran: (1) Tipe pertama, mahasiswa kedokteran typical. Seperti namanya, mahasiswa ini biasa biasa saja. Mahasiswa seperti ini ke kampus untuk belajar. Setelah acara belajar di kampus ini selesai, mereka biasanya langsung pulang atau sesekali jalan jalan dengan kawan kawan dalam Peer Group-nya. Jika ada acara organisasi kampus, sesekali mereka datang jika dianggapnya menarik atau bermanfaat. Namun tidak pernah aktif secara khusus dalam organisasi tersebut. Seperti namanya, typical, mahasiswa tipe ini adalah penyumbang jumlah populasi terbesar di FK.

(2) Tipe kedua, mahasiswa kedokteran hedon. Jika boleh jujur, saya menganggap mahasiswa kedokteran dalam fase ini adalah sinonim baru dari istilah ‘retardasi mental’. Kenapa saya bilang ‘fase‘? karena tidak selamanya fase ini mereka jalani. Sebagian akan melangkah keluar, sebagian lagi memilih untuk tetap ‘terbelakang’. Mahasiswa kedokteran dalam tipe ini adalah mahasiswa yang di pikirannya masih berkutat dengan ‘apa model velg yang terbaru’, ‘berapa harga tiket konser Simple Plan’ atau ‘sayang besok ngedate dimana’. Nilai nilai mereka hancur. Mimpi mereka sebatas lulus dari FK, jadi spesialis, dan bum hidup mereka yang indah akan berlanjut.

(3) Tipe ketiga, mahasiswa kedokteranorganisatoris. Walaupun tipe ini tidak bisa membedakan antara Wolff Parkinson White wave dengan Third degree AV block, they’re cool. Mereka memanfaatkan kemampuannya dalam berdiplomasi dan mengolah kata saat ujian di klinik. Mereka diuntungkan dengan fakta bahwa sebagian besar dosen klinik JUGA tidak bisa membedakan antara WPW dan 3rd degree AV Block. Apalagi Nernst equation atau Raynauld’s number. Tipe ini adalah tipe yang gampang bergaul, punya banyak teman dari fakultas lain, idealis, bersahaja dengan IP yang lumayan. Ciri yang khas dari mereka adalah biasanya mereka punya blog atau menulis artikel ilmiah. Walaupun jarang di update.

Pada saat itu, saya termasuk mahasiswa golongan terakhir. Saya merasa super dengan segala diskusi intelektual yang saya ikuti di luar kampus. Saya merasa hebat ketika saya bisa menjadi orang paling pintar di antara mahasiswa mahasiswa fakultas lain atau ketika cangkruk di warung. Saya merasa gagah ketika saya berani memberikan pertolongan pertama pada orang yang kecelakaan di jalan atau berpengalaman memberikan obat pada pasien di baksos organisasi. Saya merasa, sayalah yang terhebat di dunia. Dokter lain hanyalah dokter kelas dua.

Kenyataanya,
Saya hanyalah mahasiswa kedokteran bodoh yang sok idealis.

Butuh waktu lima tahun dan enam belas ribu kilometer untuk menyadari kenyataan ini.

Bidang Kedokteran di Indonesia saat ini bukan saja tertinggal dari rekan sejawatnya di belahan dunia lain, namun kita sudah 20 tahun terbelakang. Mulai dari level etik, diagnosis, hingga level terapi ‘game changer‘ seperti transplant surgery atau obat untuk monoclonal antibody yang sudah ada sejak 3 tahun yang lalu. Pendidikan kita diisi oleh dosen dosen tua yang tidak lagi punya waktu untuk memahami bagaimana teknik mengajar yang baik dengan berorientasi pasien, apalagi memahami mekanisme biomolekuler dan perkembangan basic science di dunia. Kritikan dan mengakui kesalahan menurut budaya kerajaan kami adalah sesuatu yang tabu dan memalukan.

to be continued..


Responses

  1. amazing .. dtunggu klanjutannya Mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori